Narasi Opini: Data Kemiskinan BPS dan Realitas Sosial
Narasi Opini: Data Kemiskinan BPS dan Realitas Sosial Kasus Nenek Wilhelmina di Ngada, Nusa Tenggara Timur, menjadi simbol nyata bahwa angka statistik tidak selalu mampu menangkap penderitaan manusia. Hidup di gubuk bambu dengan kondisi serba kekurangan, beliau justru tercatat dalam Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) sebagai kelompok menengah dengan estimasi pendapatan setara pegawai negeri. Ironi ini menyingkap kelemahan mendasar dalam sistem pendataan sosial di Indonesia. Selama ini, Badan Pusat Statistik (BPS) kerap mengklaim bahwa angka kemiskinan nasional terus menurun. Pada Maret 2025, misalnya, BPS mencatat tingkat kemiskinan sebesar 8,47%. Namun, banyak pihak meragukan validitas angka tersebut. Ekonom Bhima Yudhistira menegaskan bahwa garis kemiskinan yang digunakan terlalu rendah, sehingga banyak warga miskin tidak masuk dalam kategori resmi. “Angka kemiskinan pemerintah jauh lebih kecil dibandingkan realita di lapangan,” ujarnya. Kritik ini sejala...