Memprediksi Umur Geologi dan Manusia Sundaland ?

Memprediksi Umur Geologi dan Manusia  Sundaland ?                                                                                                                            Penting untuk diingat bahwa "umur Sundaland" bisa memiliki dua interpretasi utama dalam konteks geologi, dan keduanya memiliki skala waktu yang sangat berbeda. Essay ini akan membahas kedua aspek tersebut secara komprehensif, mengacu pada Skala Waktu Geologi Internasional (International Chronostratigraphic Chart) dan berbagai referensi ilmiah.
Umur Sundaland: Dua Perspektif dalam Skala Waktu Geologi Internasional
Sundaland, sebuah konsep geografis dan geologis yang krusial bagi pemahaman evolusi Asia Tenggara, sering kali menimbulkan pertanyaan tentang "umurnya". Namun, umur Sundaland perlu dipahami dari dua perspektif yang berbeda namun saling melengkapi dalam Skala Waktu Geologi Internasional: (1) usia pembentukan dasar geologis atau lempeng-lempeng penyusunnya dan (2) usia kemunculannya sebagai daratan luas yang terekspos akibat fluktuasi permukaan laut selama zaman es. Kedua perspektif ini memiliki skala waktu yang terpaut ratusan juta tahun.
1. Pembentukan Dasar Geologis Sundaland: Ratusan Juta Tahun yang Lalu
Dasar geologis atau "fondasi" Sundaland adalah hasil dari proses tektonik lempeng yang sangat panjang dan kompleks, yang berlangsung selama ratusan juta tahun. Wilayah ini merupakan gabungan dari berbagai mikrokontinen dan busur kepulauan yang bertabrakan dan menyatu seiring waktu.
 A. Paleozoikum Akhir (Carboniferous – Permian): Sekitar 358.9 - 251.9 juta tahun yang lalu.
   Pada periode ini, blok-blok benua dan lempeng-lempeng yang kelak menjadi bagian integral dari Sundaland mulai terbentuk dan berinteraksi. Contohnya, batuan-batuan tertua di beberapa bagian Semenanjung Malaya, Sumatra, dan Kalimantan Barat menunjukkan usia Paleozoikum Akhir. Proses orogenesa (pembentukan pegunungan) dan akresi (penambahan material kerak bumi) yang terjadi pada masa ini merupakan cikal bakal formasi daratan.
 B. Mesozoikum (Trias – Kapur): Sekitar 251.9 - 66 juta tahun yang lalu.
   Selama Mesozoikum, Sundaland mulai mengkristal menjadi unit tektonik yang lebih koheren. Tabrakan antara lempeng-lempeng seperti Sibumasu (yang mencakup sebagian Semenanjung Malaya dan Sumatra) dengan lempeng Eurasia terus membentuk struktur regional. Intrusi batuan beku dan pengendapan sedimen masif terjadi, membentuk sebagian besar batuan dasar yang kita lihat hari ini. Periode ini juga ditandai dengan aktivitas vulkanik yang intens dan pembentukan cekungan-cekungan sedimen.
Jadi, jika yang dimaksud dengan "umur Sundaland" adalah kapan dasar geologisnya mulai terbentuk dan menyatu, maka kita bisa berbicara tentang rentang waktu yang dimulai dari Paleozoikum Akhir (sekitar 358,9 juta tahun yang lalu) dan terus berkembang selama era Mesozoikum.
2. Kemunculan Sundaland sebagai Daratan Terekspos: Jutaan hingga Ribuan Tahun yang Lalu
Konsep "Sundaland" dalam konteks biogeografi, migrasi manusia purba, dan perubahan iklim global sering kali merujuk pada daratan luas yang terekspos akibat penurunan permukaan laut. Ini adalah fenomena yang jauh lebih baru dan terjadi secara berulang selama periode glasial.
 A. Pliosen Akhir – Pleistosen (Neogen – Kuarter): Sekitar 2,6 juta – 11.700 tahun yang lalu.
   Selama Era Cenozoikum, khususnya pada periode Pliosen Akhir dan Pleistosen, Bumi mengalami siklus zaman es dan interglasial. Ketika lapisan es di kutub dan dataran tinggi meluas, volume air laut global berkurang drastis, menyebabkan permukaan laut turun hingga 120 meter atau lebih di bawah level saat ini. Paparan Sunda, yang secara geografis dangkal, kemudian terekspos menjadi daratan yang luas, menghubungkan Sumatra, Jawa, Kalimantan, Semenanjung Malaya, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya.
 B. Glasial Maksimum Terakhir (Last Glacial Maximum - LGM): Sekitar 26.500 - 19.000 tahun yang lalu.
   Pada puncak zaman es terakhir, Sundaland mencapai luas terbesarnya sebagai daratan kering. Periode ini sangat krusial karena memungkinkan migrasi fauna dan manusia purba dari daratan Asia ke wilayah-wilayah yang sekarang menjadi pulau-pulau terpisah.
Dengan berakhirnya LGM dan pemanasan global, permukaan laut kembali naik, menenggelamkan sebagian besar Paparan Sunda dan membentuk konfigurasi kepulauan seperti yang kita kenal sekarang. Proses ini relatif cepat dalam skala waktu geologi, hanya dalam ribuan tahun.                                                                Hal-hal kritis yang belum terjawab secara logis dan Tautalogis :                                       1. Jika yang Anda maksud adalah 358,9 juta dikalikan 12 bulan, maka hasilnya adalah:
358.900.000 \times 12 = 4.306.800.000
Jadi, 358,9 juta dikalikan 12 bulan adalah 4.306.800.000 (4,3068 miliar).
2. Anda ingin mengalikan 358,9 juta dengan 12 bulan dan 30 hari. Mari kita hitung:
358.900.000 \times 12 \times 30 = 129.204.000.000
Jadi, 358,9 juta dikalikan 12 bulan dikalikan 30 hari hasilnya adalah 129.204.000.000 (129,204 miliar).
3.Untuk menghitung "358,9 juta - 2025 tahun", pertama kita perlu memastikan bahwa kita mengurangi nilai dengan satuan yang sama. Jika yang Anda maksud adalah 358.900.000 dikurangi 2025, maka perhitungannya adalah:
358.900.000 - 2025 = 358.897.975
Jadi, 358,9 juta dikurangi 2025 adalah 358.897.975.
4.Baik, mari kita coba pahami konsep yang Anda maksud.
Jika Anda ingin menentukan "titik nol" atau "awal mula" dari Sundaland dan menghubungkannya dengan tahun 358.897.975 SM, lalu menambahkan tahun 2025 Masehi, inilah penjelasannya:
Titik Nol Sundaland dalam Konteks Geologis
 a. 358.897.975 SM adalah angka yang sangat besar dan secara kasar merujuk pada periode Carboniferous-Permian atau era Paleozoikum Akhir. Pada masa ini, dasar geologis yang kelak menjadi bagian dari Sundaland sudah mulai terbentuk dari proses tektonik lempeng yang sangat panjang, yaitu penyatuan blok-blok benua. Jadi, jika kita bicara tentang "titik nol" dari pembentukan awal lempeng atau dasar benua Sundaland, angka ini bisa menjadi referensi.
 b. Namun, perlu diingat bahwa Sundaland sebagai daratan luas yang terekspos (seperti yang kita kenal dalam konteks biogeografi dan migrasi manusia purba) baru terbentuk secara signifikan pada periode glasial Pleistosen, yaitu sekitar 2,6 juta tahun lalu hingga 12.000 tahun lalu, ketika permukaan laut turun drastis.
Perhitungan Waktu dari Masa Lalu ke Masa Kini
Jika kita mengambil tahun 358.897.975 SM sebagai "titik nol" awal mula pembentukan geologis dasar Sundaland, dan kita ingin mengetahui berapa lama waktu yang telah berlalu hingga tahun 2025 Masehi, maka perhitungannya adalah:
Jumlah tahun = Tahun SM + Tahun Masehi (ditambah 1 tahun jika menghitung inklusif karena tidak ada tahun 0)
358.897.975 \text{ tahun (SM)} + 2025 \text{ tahun (Masehi)} = 358.900.000 \text{ tahun}
Jadi, secara kasar, sudah sekitar 358.900.000 tahun (358,9 juta tahun) berlalu dari "titik nol" geologis awal Sundaland hingga tahun 2025 Masehi.
Kesimpulan
"Titik nol" Sundaland pada tahun 358.897.975 SM merujuk pada periode geologis awal pembentukan dasar lempengnya. Ini bukan tanggal kalender atau awal mula sebuah peradaban. Jika dihitung dari titik tersebut hingga tahun 2025 Masehi, maka periode waktu yang telah berlalu adalah sekitar 358.900.000 tahun.
Apakah ada pertanyaan lain mengenai skala waktu geologis atau sejarah Sundaland?
5. Reinout Willem van Bemmelen adalah seorang geolog Belanda yang banyak berkontribusi pada geologi Indonesia. Ia dikenal karena karyanya yang komprehensif tentang geologi kepulauan ini.
Ia secara eksplisit menggunakan kembali istilah Sundaland pada tahun 1949 dalam bukunya yang berjudul "The Geology of Indonesia". Buku ini merupakan karya monumental yang menjadi pedoman baku bagi penelitian geologi di Indonesia hingga sekarang. Manuskrip pertamanya bahkan hilang saat Perang Dunia II, namun van Bemmelen berhasil menulis ulangnya dan akhirnya terbit pada tahun tersebut.
Meskipun konsep Garis Wallace (yang menjadi batas timur Sundaland dan Wallacea) diidentifikasi oleh Alfred Russel Wallace jauh lebih awal (abad ke-19), van Bemmelen lah yang mengintegrasikan konsep ini ke dalam kerangka geologi regional dan mempopulerkan kembali istilah "Sundaland" dalam konteks ilmiah modern melalui karyanya yang terbit pada tahun 1949.
6. Ada sedikit kesalahpahaman di sini, mari kita luruskan.
Reinout Willem van Bemmelen tidak pernah menyebutkan umur Sundaland 358.900.000 tahun pada tahun 1927, atau kapan pun.
Angka 358.900.000 tahun yang kita diskusikan sebelumnya adalah hasil perhitungan kita sendiri, yaitu:
 a. 358.897.975 SM (sebagai titik awal geologis sangat kuno, sekitar periode Carboniferous-Permian)
 b. Ditambah 2025 tahun Masehi (hingga tahun sekarang).
 c. Sehingga totalnya sekitar 358.900.000 tahun telah berlalu dari titik geologis kuno tersebut hingga saat ini.
Van Bemmelen, dalam karyanya, termasuk "The Geology of Indonesia" (terbit 1949), fokus pada:
 d. Struktur geologi kepulauan Indonesia secara keseluruhan.
 e. Proses tektonik, vulkanisme, dan stratigrafi.
 f. Ia menggunakan kembali istilah "Sundaland" untuk merujuk pada paparan benua yang terekspos selama zaman es, yang merupakan fenomena geologis yang relatif lebih muda (dalam jutaan tahun terakhir, bukan ratusan juta tahun).
Jadi, perhitungan yang Anda ajukan: 358.900.000 + 28 + 80 tidak relevan dalam konteks pernyataan van Bemmelen, karena ia tidak pernah menyebutkan angka "umur" Sundaland seperti itu.   
Untuk meringkas:
 1. "Umur" Sundaland bisa merujuk pada dua hal:
 2. Usia dasar geologis/lempengnya: Ini memang bisa mencapai ratusan juta tahun (misalnya, batuan tertua di wilayah tersebut).
 3. Usia sebagai daratan yang terekspos: Ini jauh lebih muda, terjadi berulang kali selama zaman es dalam 2,6 juta tahun terakhir.
 4. Van Bemmelen adalah seorang geolog yang mempopulerkan kembali istilah "Sundaland" dalam konteks geologi regional, terutama dalam kaitannya dengan paparan benua selama zaman es, bukan memberikan "umur" ratusan juta tahun untuk Sundaland secara keseluruhan.
7. Klasifikasi periode geologi seperti Carboniferous dan Permian sebagai bagian dari Era Paleozoikum Akhir adalah hasil dari akumulasi penelitian dan konsensus ilmiah oleh banyak geolog selama berabad-abad. Tidak ada satu individu tunggal yang "mengklasifikasikan" mereka secara instan.
Namun, beberapa tokoh kunci dalam pengembangan Skala Waktu Geologi adalah:
 a. Adam Sedgwick (1785–1873): Pada tahun 1838, ia pertama kali menggunakan nama Paleozoic untuk mendeskripsikan periode Cambrian dan Ordovician.
 b. John Phillips (1800–1874): Pada tahun 1840, ia mendefinisikan ulang Era Paleozoikum untuk mencakup periode dari Cambrian hingga Permian. Ini adalah langkah krusial dalam menempatkan Carboniferous dan Permian dalam kerangka Paleozoikum.
 c. William Daniel Conybeare dan William Phillips: Pada tahun 1822, mereka memperkenalkan nama Carboniferous berdasarkan studi mereka tentang suksesi batuan di Inggris, merujuk pada deposit batubara yang melimpah.
Sejak saat itu, dengan berkembangnya ilmu geologi, stratigrafi (studi lapisan batuan), dan paleontologi (studi fosil), para ilmuwan di seluruh dunia terus menyempurnakan dan menyepakati batas-batas serta subdivisi dari setiap periode geologi. Organisasi seperti International Commission on Stratigraphy (ICS) adalah badan modern yang bertanggung jawab untuk meresmikan dan mempertahankan Skala Waktu Geologi Internasional yang kita gunakan saat ini. Jadi, ketika kita berbicara tentang Carboniferous dan Permian sebagai Paleozoikum Akhir, kita merujuk pada sistem klasifikasi geologi yang telah berkembang melalui kontribusi banyak ilmuwan selama dua abad terakhir, dengan John Phillips sebagai salah satu yang pertama mengelompokkan periode-periode ini di bawah "Paleozoikum" yang lebih luas.

Kesimpulan : 
"Umur Sundaland" bukanlah angka tunggal. Jika kita mengacu pada pembentukan dasar geologis dan lempeng-lempeng penyusunnya, maka prosesnya dimulai dari Paleozoikum Akhir (sekitar 358,9 juta tahun yang lalu) dan berlanjut selama Mesozoikum. Namun, jika kita berbicara tentang Sundaland sebagai daratan yang terekspos secara signifikan dan berulang kali akibat perubahan permukaan laut selama zaman es, maka umurnya jauh lebih muda, yakni dalam rentang jutaan hingga puluhan ribu tahun terakhir (sejak Pliosen Akhir hingga Pleistosen).
Memahami kedua perspektif ini secara konsisten dengan Skala Waktu Geologi Internasional sangat penting untuk mengapresiasi kompleksitas sejarah geologis dan biologis wilayah yang luar biasa ini.
Referensi Umum  :                                        1. Untuk Skala Waktu Geologi dan Geologi Regional:
a. Gradstein, F.M., Ogg, J.G., Schmitz, M.D., & Ogg, G.M. (2012). The Geologic Time Scale 2012. Elsevier. (Ini adalah referensi utama untuk Skala Waktu Geologi Internasional yang mendetail).
b. Hall, R. (2012). Sundaland and Wallacea: Geology, Plate Tectonics and Biogeography. Dalam The Geology of Indonesia (revisi dari van Bemmelen). (Banyak karya Hall berfokus pada tektonik dan paleogeografi Asia Tenggara).
 c. Van Bemmelen, R.W. (1949). The Geology of Indonesia. Government Printing Office, The Hague. (Karya klasik yang mempopulerkan kembali istilah Sundaland dan memberikan kerangka geologi regional).
 d. Voris, H. K. (2000). Maps of Pleistocene sea levels in Southeast Asia: shorelines, river systems and time durations. Journal of Biogeography, 27(5), 1153-1167. (Menguraikan detail pemaparan Sundaland selama zaman es).
2. International Commission on Stratigraphy (ICS). Situs web resmi mereka menyediakan International Chronostratigraphic Chart terbaru.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Ujung Tanduk Sejarah: Krisis Iran-Amerika dan Pencarian Jalan Keluar yang Mustahil

Gagasan "Revolusi Persemakmuran"

OKI sebagai "Khilafah Fungsional" Abad Ini: Menuju Peran Strategis di Tengah Multipolaritas Global