Sepp Blatter Dukung Seruan Boikot Piala Dunia 2026 di AS: Isu Keamanan Jadi Sorotan
Sepp Blatter Dukung Seruan Boikot Piala Dunia 2026 di AS: Isu Keamanan Jadi Sorotan
Oleh : Redaksi FSGN
Mantan Presiden FIFA Sepp Blatter secara terbuka mendukung seruan boikot Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Dukungan ini disampaikan pada Senin (26 Januari 2026) menyusul kritik terhadap kebijakan Presiden AS Donald Trump dan pemerintahannya.
Seruan Boikot Sepp Blatter
Blatter menyuarakan dukungannya melalui unggahan di platform X (Twitter), merespons pernyataan Mark Pieth dalam wawancara dengan surat kabar Swiss Der Bund. Mark Pieth adalah pengacara Swiss spesialis kejahatan kerah putih dan pakar antikorupsi yang pernah memimpin pengawasan Komite Tata Kelola Independen FIFA sekitar satu dekade lalu.
Pieth menyinggung insiden penembakan demonstran di Minnesota oleh agen federal Amerika Serikat sebagai salah satu kekhawatiran utama. Secara spesifik, ia menyebutkan pembunuhan demonstran Renee Good oleh agen imigrasi Amerika di Minneapolis pada awal Januari, serta kematian warga negara AS Alex Pretti akhir pekan lalu.
Pernyataan Mark Pieth
Pieth memberikan saran tegas: "Untuk para penggemar, hanya ada satu nasihat: hindari Amerika Serikat! Anda akan mendapatkan tontonan yang lebih baik di televisi". Ia juga memperingatkan bahwa para penggemar harus siap jika mereka tidak berperilaku baik terhadap pihak berwenang, mereka akan segera dipulangkan.
Dalam wawancara dengan harian Swiss Tages-Anzeiger, Pieth menyoroti kondisi politik dan sosial di Amerika Serikat, termasuk marjinalisasi lawan politik serta dugaan penyalahgunaan wewenang oleh otoritas imigrasi.
Dukungan Sepp Blatter
Blatter menyatakan: "Saya pikir Mark Pieth benar untuk mempertanyakan Piala Dunia ini". Blatter sendiri menjabat sebagai Presiden FIFA dari 1998 hingga 2015, sebelum mengundurkan diri di tengah penyelidikan besar kasus korupsi.
Wacana Boikot dari Jerman
Wacana boikot Piala Dunia 2026 juga mencuat dari Jerman. Wakil presiden Asosiasi Sepak Bola Jerman (DFB), Oke Gottlich, menyebut sudah saatnya membicarakan opsi tersebut menyusul ketegangan politik terkait kepemimpinan Donald Trump.
Gottlich merujuk pada boikot Olimpiade 1980 sebagai pembanding: "Apa pembenaran untuk boikot Olimpiade pada tahun 1980-an? Menurut saya, potensi ancamannya sekarang lebih besar daripada saat itu. Kita perlu membahas ini".
Format dan Penyelenggaraan Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 dijadwalkan berlangsung dengan format 48 tim. Turnamen ini digelar di tiga negara, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Dari total 104 pertandingan Piala Dunia 2026, sebanyak 78 laga dijadwalkan berlangsung di Amerika Serikat.
Kekhawatiran Tambahan
Badan Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) serta Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan (CBP) AS telah bertindak brutal dalam menangani imigran dan para demonstran di era Trump. Sejak 2025 sampai Januari 2026, tercatat sudah ada 28 penembakan yang menewaskan delapan orang, termasuk dua di Minneapolis bulan ini.
Penggemar dari Iran dan Haiti, dua negara yang telah lolos ke Piala Dunia 2026, juga akan dilarang masuk ke AS karena termasuk dalam gelombang awal kebijakan larangan perjalanan yang diumumkan pemerintah Trump.
Isu Harga Tiket
Piala Dunia 2026 juga mendapat sorotan karena harga tiket yang mahal dengan memberlakukan sistem harga dinamis. Harga tiket final saat ini sudah mencapai 145,8 juta Rupiah untuk kategori 1.
Respons Presiden FIFA
Presiden FIFA Gianni Infantino justru berkilah dengan menyebut harga mahal itu disebabkan para fan yang sudah memiliki tiket namun kembali dijual agar untung. Infantino menyatakan: "Orang-orang ingin pergi, dan mereka akan pergi dan merayakan bersama. Kita selalu, selalu merayakan sepakbola bersama".
Catatan: Artikel ini merangkum perkembangan terkini mengenai seruan boikot Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat yang didukung oleh mantan Presiden FIFA Sepp Blatter, dengan fokus utama pada isu keamanan dan kebijakan pemerintahan Donald Trump.
Komentar
Posting Komentar