Amerika Latin Paling Di Untungkan Atas Konflik Teluk?

Amerika Latin Paling Di Untungkan Atas Konflik Teluk? 

Berikut analisis mendalam dampak Selat Hormuz terhadap Amerika Latin. 

Paradoks Besar: Amerika Latin bukan sekadar "pemenang" krisis Hormuz — kawasan ini terpecah menjadi tiga kelompok dengan nasib berbeda.

Pemenang Bersih:
Guyana adalah bintang terbesar — memproduksi 913.550 barel per hari per Desember 2025, kini menjadi negara dengan PDB per kapita tertinggi di Amerika Selatan dan ketujuh di dunia, dengan ekspansi menuju 1,7 juta barel per hari sebelum 2030. [Modern Diplomacy](https://moderndiplomacy.eu/2025/07/09/the-economic-cost-of-closure-of-the-strait-of-hormuz-for-the-world/)

Kolombia berpotensi mendapat keuntungan terbesar dari normalisasi Venezuela, dengan potensi kenaikan ekspor rata-rata 0,5% dari PDB per tahun. [CBS News](https://www.cbsnews.com/news/strait-of-hormuz-iran-oil-prices-us/)

Paradoks Brazil & Meksiko:
Eksportir minyak seperti Brazil, Kolombia, dan Venezuela akan mendapat pendapatan lebih banyak, namun gangguan pasokan pupuk bisa melukai petani mereka — sekitar 41% impor urea Brazil pada tahun lalu melewati Selat Hormuz yang kini tertutup. [CNBC](https://www.cnbc.com/2026/03/03/strait-of-hormuz-closure-which-countries-will-be-hit-the-most.html)
Meksiko berada di posisi unik: setiap kenaikan $1/barel menghasilkan MX$10,7 miliar tambahan penerimaan federal, namun Meksiko mengimpor sekitar 72% konsumsi bensinnya akibat kapasitas kilang Pemex yang lemah. [Indonesia Finance Market](https://www.idnfinancials.com/news/61851/aramco-to-reroute-oil-exports-from-the-strait-of-hormuz-to-the-red-sea)

**Ancaman Tersembunyi yang Lebih Berbahaya dari Krisis Minyak:**
Satu pertiga perdagangan pupuk dunia melewati Hormuz. Jika shipping tetap beku, dampaknya tidak akan menghantam tangki bahan bakar Anda dulu — melainkan piring makan Anda. Harga pupuk naik, petani membayar lebih atau tidak mendapat pupuk, hasil panen berkurang, pangan langka, harga naik di pasar dari Lagos hingga Lima. [CNBC](https://www.cnbc.com/2026/03/03/strait-of-hormuz-closure-which-countries-will-be-hit-the-most.html)

QatarEnergy telah menghentikan produksi urea dan amonia di Ras Laffan — kompleks industri terbesar di dunia — dan tidak ada cadangan strategis pupuk, tidak ada pipa bypass, tidak ada ekuivalen OPEC untuk merespons. [Wikipedia](https://en.wikipedia.org/wiki/2026_Strait_of_Hormuz_crisis)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Ujung Tanduk Sejarah: Krisis Iran-Amerika dan Pencarian Jalan Keluar yang Mustahil

Gagasan "Revolusi Persemakmuran"

OKI sebagai "Khilafah Fungsional" Abad Ini: Menuju Peran Strategis di Tengah Multipolaritas Global