Garut Selatan Bangkit: Ekosistem Jagung Terpadu dan Infrastruktur Jadi Kunci Percepatan Pembangunan
Garut Selatan Bangkit: Ekosistem Jagung Terpadu dan Infrastruktur Jadi Kunci Percepatan Pembangunan
Pemerintah Kabupaten Garut fokus pada integrasi pertanian dan peternakan serta perbaikan jalur strategis untuk mengentaskan kemiskinan ekstrem di wilayah selatan
GARUT, [27/3/2026] – Ombak Samudera Hindia yang memecah di pesisir selatan Garut menyimpan potensi besar. Namun, selama ini, wilayah yang membentang dari Kecamatan Mekarmukti hingga Cibalong ini masih dibayangi tantangan klasik: kemiskinan ekstrem, angka putus sekolah, dan infrastruktur yang terbatas. Kini, angin perubahan berhembus kencang. Pemerintah Kabupaten Garut di bawah kepemimpinan Bupati Abdusy Syakur Amin sedang menggenjot akselerasi pembangunan dengan strategi baru yang terintegrasi—mengubah hamparan ladang jagung menjadi mesin ekonomi kerakyatan.
“Kita harus melakukan akselerasi. Penyerapan tenaga kerja bisa melalui berbagai sektor, tidak harus selalu industri pabrik. Pariwisata, restoran, dan hotel juga memiliki potensi besar,” ujar Bupati Syakur saat memberikan arahan kepada para kepala desa se-Kecamatan Mekarmukti, Caringin, dan Bungbulang di Aula Kantor Kecamatan Mekarmukti, Senin (23/2/2026) lalu .
Jagung sebagai Komoditas Strategis
Di balik potensi wisata bahari yang mulai dilirih, Bupati Syakur melihat satu komoditas yang selama ini luput dari perhatian optimal: jagung. Ia mengidentifikasi jagung sebagai komoditas paling strategis untuk dikembangkan di Garut Selatan saat ini. Tanaman ini bukan sekadar hasil panen biasa, melainkan kunci pembuka peluang ekonomi baru yang memiliki keterkaitan erat dengan sektor peternakan dan program prioritas nasional .
“Jagung menjadi komoditas yang sangat potensial karena memiliki keterkaitan dengan sektor lain, khususnya peternakan. Ini peluang besar yang harus dimanfaatkan,” tegasnya .
Permintaan pasar terhadap jagung terus meningkat, terutama sebagai bahan baku utama pakan ternak unggas yang menopang industri peternakan nasional. Kebutuhan jagung untuk industri pakan di Indonesia mencapai jutaan ton setiap tahun, dengan sektor peternakan menyerap lebih dari separuh produksi nasional. Selain itu, jagung juga memiliki peran penting dalam mendukung program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang dicanangkan pemerintah pusat .
Mengadopsi Model Terpadu ala Blitar
Namun, Bupati Syakur tidak ingin pengembangan jagung berjalan sendiri tanpa arah. Ia mendorong integrasi antara produksi jagung dengan peternakan ayam pedaging dalam satu sistem terpadu, meniru pola ekosistem yang telah sukses diterapkan di Blitar, Jawa Timur .
Di Blitar, lahan produksi jagung, pabrik pakan, dan peternakan berada dalam satu kawasan yang saling terhubung. Dengan sistem seperti itu, biaya logistik dapat ditekan, distribusi menjadi lebih cepat, dan harga produksi lebih kompetitif. “Jika ekosistemnya terintegrasi, biaya produksi bisa ditekan. Ini akan berdampak pada harga yang lebih kompetitif dan meningkatkan kesejahteraan petani serta peternak,” ungkap Bupati Syakur .
Selama ini, petani dan peternak di Garut sering bergerak sendiri-sendiri, seperti roda yang berputar tanpa poros yang sama. Padahal jika sektor produksi dan pengolahan terhubung, nilai ekonomi yang dihasilkan jauh lebih besar dan berkelanjutan. Integrasi tersebut diharapkan mampu menciptakan siklus ekonomi yang saling menguatkan, dari ladang hingga pasar .
Infrastruktur Jalan: Target Rp200 Miliar untuk Jalur Selatan
Strategi pembangunan ekonomi tidak akan optimal tanpa infrastruktur yang memadai. Menyadari hal ini, Pemkab Garut tengah gencar mengajukan perbaikan jalur selatan yang selama ini menjadi kendala utama mobilitas warga dan distribusi hasil bumi.
Menjelang musim mudik Idulfitri 1447 H/2026, Pemkab Garut telah mengajukan anggaran sekitar Rp200 miliar kepada pemerintah provinsi dan pusat untuk pembangunan dan perbaikan jalan utama di wilayah selatan. Hal ini disampaikan oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Garut, Agus Ismail .
“Yang menjadi prioritas kita yaitu di jalur Pamegatan-Singajaya. Itu kan panjangnya kurang lebih 23 km,” ujar Agus. Jalur ini dinilai memiliki potensi besar sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru karena menghubungkan wilayah Banjarwangi, Singajaya, Peundeuy, hingga Cibalong .
Rincian usulan anggaran tersebut adalah:
· Pamegatan - Singajaya: Rp79 miliar (23 km)
· Talegong - Selawi: Rp24 miliar
· Pamalayan - Cicariu - Cikarang: Rp35 miliar
· Puncak Hamerang - Coblosan: Rp35 miliar
Bupati Syakur sendiri telah melakukan monitoring langsung kondisi jalan di Kecamatan Banjarwangi, Singajaya, Peundeuy, dan Cibalong pada akhir Januari 2026 untuk memastikan kesiapan teknis di lapangan . Ia juga sedang mempertimbangkan alternatif jalur penghubung dari Pamalayan di Kecamatan Cisewu yang merupakan jalur provinsi menuju jalur nasional .
“Kami ini sekarang sedang mempertimbangkan ada jalur dari Pamalayan Cisewu langsung ke jalur nasional di bawah,” kata Bupati Syakur .
Pihaknya mengajukan pembangunan tersebut ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui program Infrastruktur Jalan Desa (IJD). “Semoga ini bisa terealisasi, karena ini juga praktiknya bahwa ini baru kita ajukan, tapi biasanya itu untuk tahun 2026,” harapnya .
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski berbagai langkah progresif telah dirancang, Bupati Syakur tidak menampik bahwa Garut Selatan masih menghadapi persoalan mendasar. Ia mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi sosial-ekonomi masyarakat yang dinilai masih dibayangi kemiskinan ekstrem, tingginya angka putus sekolah yang belum sepenuhnya terkendali, hingga kasus kematian ibu dan anak yang masih menjadi perhatian serius .
Lemahnya hilirisasi juga menjadi sorotan. Banyak komoditas dijual dalam bentuk mentah tanpa proses pengolahan yang memberikan nilai tambah, sehingga potensi ekonomi lokal belum mampu memberikan kesejahteraan maksimal bagi petani dan masyarakat setempat .
Menatap Masa Depan: Garut Selatan sebagai Simpul Ekonomi Baru
Melalui konsep pembangunan terintegrasi ini, pemerintah daerah berharap Garut Selatan tidak lagi sekadar dikenal sebagai wilayah penghasil bahan mentah, tetapi mampu mengambil peran strategis dalam rantai pasok pangan nasional. Kawasan ini diharapkan tumbuh menjadi simpul ekonomi baru yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani, menekan kemiskinan ekstrem, sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia .
Bupati Syakur mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama mendukung percepatan pembangunan ini. Dalam berbagai kesempatan, ia memohon dukungan dan kerelaan warga jika lahan mereka terdampak proses pelebaran jalan. “Mohon juga bantuan dari masyarakat sejatinya kan harus ada pengorbanan dari semua pihak, jadi kami berharap ketika ada jalan-jalan yang relatif sempit (dan ingin) diperlebar, kita mohon masyarakat bisa merelakan lahan tanah miliknya untuk digunakan sebagai jalan umum,” pesannya.
Jika rencana ini berjalan sesuai harapan, hamparan ladang jagung di Garut Selatan kelak bukan hanya simbol kesuburan tanah, tetapi juga menjadi penanda perubahan nasib masyarakatnya. Dari tanah yang sama, tumbuh harapan baru—bahwa pembangunan tak lagi sekadar wacana, melainkan gerak nyata yang perlahan menata masa depan .
Editor: A. Rohmandar
Ikuti terus berita terbaru seputar pembangunan Garut Selatan di portal berita ini.
Komentar
Posting Komentar