Indonesia dan Synergritas Mimpi Kolektif Negara D-8

Indonesia dan Synergritas Mimpi Kolektif Negara D-8

Artikel ini membahas relevansi forum Developing-8 (D-8) — kelompok delapan negara berkembang yang terdiri dari Indonesia, Turki, Malaysia, Mesir, Pakistan, Bangladesh, Iran, dan Nigeria — di tengah tatanan global yang kian terfragmentasi.

Negara-negara D-8 memiliki kesamaan yang jelas: penduduknya besar, pasarnya luas, namun selama ini lebih sering diposisikan sebagai pihak yang menunggu kesempatan, bukan yang ikut menentukan arah kebijakan global. [antaranews](https://www.antaranews.com/berita/5443878/indonesia-dan-mimpi-kolektif-negara-d-8?page=all)

D-8 lahir bukan dari ilusi sebagai kekuatan besar, melainkan dari kesadaran akan kebutuhan yang sangat konkret — yaitu kebutuhan untuk saling menopang di dunia yang kian tak ramah bagi yang datang belakangan. [antaranews](https://www.antaranews.com/berita/5443878/indonesia-dan-mimpi-kolektif-negara-d-8?page=all)

Penulis menyoroti bahwa setiap anggota membawa kekuatan uniknya masing-masing: Turki di manufaktur, Iran di energi, Nigeria di bonus demografi, Bangladesh di industri padat karya, Malaysia yang pragmatis, Mesir yang geostrategis, serta Pakistan dan Indonesia yang ditopang pasar domestik luas. Sayangnya, potensi-potensi tersebut lebih sering berdiri sendiri, jarang dirajut dalam satu kerangka bersama. [antaranews](https://www.antaranews.com/berita/5443878/indonesia-dan-mimpi-kolektif-negara-d-8?page=all)

Dalam konteks **keketuaan Indonesia di D-8 (2026–2027)**, penulis menilai momen ini sangat tepat. Indonesia memiliki modal naratif yang kuat — sejak Konferensi Asia-Afrika 1955, gagasan tentang kerja sama negara berkembang bukanlah hal baru — namun semangat lama itu perlu diterjemahkan ulang dalam bahasa kebijakan yang relevan hari ini. [antaranews](https://www.antaranews.com/berita/5443878/indonesia-dan-mimpi-kolektif-negara-d-8?page=all)

Tantangan tetap ada: perbedaan sistem politik, tingkat pembangunan, hingga konflik internal antar-anggota. Namun penulis menutup dengan pertanyaan kritis: apakah D-8 akan menjadi forum pertemuan rutin yang hanya menghasilkan sesi berfoto bersama, atau benar-benar menjadi ruang kerja yang berani menyentuh hal-hal teknis dan kadang tidak populer. Konsistensi, bukan retorika, yang akan menentukan masa depan D-8. [antaranews](https://www.antaranews.com/berita/5443878/indonesia-dan-mimpi-kolektif-negara-d-8?page=all)

Intinya, artikel ini mendorong D-8 — dan Indonesia sebagai ketuanya — untuk bergerak dari simbolisme menuju kerja sama riil: perdagangan berbasis mata uang nasional, kolaborasi industri halal, dan pertukaran teknologi yang langsung menyentuh sektor riil. Sebuah ajakan bagi negara-negara berkembang untuk berhenti menunggu dan mulai berjalan bersama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Di Ujung Tanduk Sejarah: Krisis Iran-Amerika dan Pencarian Jalan Keluar yang Mustahil

Gagasan "Revolusi Persemakmuran"

OKI sebagai "Khilafah Fungsional" Abad Ini: Menuju Peran Strategis di Tengah Multipolaritas Global