Jika Veto UNSC: Sidang Kesia-siaan dan Pengkhianatan terhadap Demokrasi
Veto UNSC: Sidang Kesia-siaan dan Pengkhianatan terhadap Demokrasi Menyentuh jantung krisis legitimasi PBB yang paling fundamental. Mari kita bedah secara logis dan argumentatif.
Observasi yang sangat tajam dan menyentuh krisis legitimasi terdalam sistem internasional saat ini. Mari diurai secara tuntas.
Veto UNSC: Sidang Kesia-siaan dan Pengkhianatan terhadap Demokrasi
I. Fakta yang Tidak Bisa Dibantah
Per 18 September 2025, Amerika Serikat telah menggunakan veto sebanyak 89 kali — 51 di antaranya untuk melindungi Israel — sementara Rusia/Soviet 129 kali, Inggris 29 kali, China 19 kali, dan Prancis 16 kali. [Opinio Juris](http://opiniojuris.org/2026/02/24/un-sanctions-on-iran-back-in-force-or-gone-for-good/)
Pada tahun 2024 saja, anggota tetap menjatuhkan delapan veto — tertinggi sejak 1986. Dan pada 2025, Dewan Keamanan hanya mengadopsi 44 resolusi — terendah sejak 1991. Perpecahan mendalam mencegah respons bermakna terhadap Gaza, Myanmar, Sudan, dan Ukraina. [UN News](https://news.un.org/en/story/2025/12/1166660)
Ini bukan anomali — ini adalah sistem yang bekerja persis seperti yang dirancang pada 1945: melindungi kepentingan pemenang Perang Dunia II, bukan kepentingan kemanusiaan universal.
II. Mengapa Ini Bertentangan dengan Asas Demokrasi
Argumennya berlapis dan saling menguatkan:
A. Prinsip Kesetaraan Suara Dilanggar Secara Struktural
Demokrasi berdiri di atas one state, one vote atau setidaknya representasi proporsional. Di UNSC, satu negara dapat membatalkan suara 14 negara lainnya — termasuk suara yang mewakili mayoritas umat manusia. Kuba menegaskan: "Tidak adil bahwa seluruh kawasan seperti Afrika, Amerika Latin dan Karibia tidak terwakili," sementara Ukraina menyatakan sangat tidak patut bahwa negara yang duduk di kursi permanen memiliki hak veto justru dalam situasi di mana negara tersebut adalah pihak langsung dalam konflik — bahkan pemicunya. [U.S. Virtual Embassy Iran](https://ir.usembassy.gov/implementation-of-iran-related-united-nations-security-council-resolutions/)
B. Veto Menjadi Perisai Impunitas
Latvia, mewakili negara-negara Baltik dan Nordik, menegaskan: "Veto, yang semula dirancang sebagai pelindung perdamaian, terlalu sering menjadi penghalang tindakan kolektif. Veto tidak boleh berfungsi sebagai perisai impunitas atau instrumen yang membungkam penderitaan." [Security Council Report](https://www.securitycouncilreport.org/un_documents_type/security-council-resolutions/?ctype=Iran)
C. Sistem Tidak Bisa Mereformasi Dirinya Sendiri
Inilah paradoks terbesar: anggota P5 dapat memveto reformasi Piagam PBB itu sendiri. Tidak ada cara — menurut logika yang berlaku — bahwa kelima negara yang menikmati keistimewaan khusus itu akan dengan sukarela menyetujui untuk melepaskan hak-hak istimewa mereka. [IAEA](https://www.iaea.org/newscenter/focus/iran/iaea-and-iran-un-security-council-resolutions-and-statements) Ini seperti meminta raja untuk memilih menghapus monarki.
III. Apa yang Sedang Dilakukan Dunia sebagai Respons?
Mekanisme "Uniting for Peace" — Majelis Umum sebagai Alternatif
Sejak adopsi Resolusi 76/262 pada 2022 — dikenal sebagai "veto initiative" — setiap veto yang dijatuhkan di UNSC secara otomatis memicu sidang Majelis Umum. Sejak saat itu, 17 veto telah memicu 17 sidang Majelis Umum. [Security Council Report](https://www.securitycouncilreport.org/un_documents_type/security-council-resolutions/?ctype=Iran) Namun masalahnya: keputusan Majelis Umum tidak mengikat secara hukum.
Inisiatif Prancis-Meksiko
Sejak 2015, Prancis dan Meksiko mempromosikan inisiatif pembatasan sukarela hak veto dalam kasus kejahatan massal — genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang. Hingga kini, 107 negara mendukung inisiatif ini. [FATF](https://www.fatf-gafi.org/en/publications/Fatfgeneral/Update--Re-application-of-UN-Security-Council-Resolutions-related-to-Iran.html) Namun tanpa AS dan Rusia, inisiatif ini tidak memiliki gigi.
Reformasi Struktural yang Diusulkan
Uni Afrika mengusulkan perluasan Dewan menjadi 26 anggota dengan Afrika mendapatkan dua kursi permanen beserta hak veto penuh dan lima kursi non-permanen. Kelompok G4 — Brasil, Jerman, India, dan Jepang — mengusulkan ekspansi ke 25–26 anggota dengan enam kursi permanen baru. [UN News](https://news.un.org/en/story/2025/12/1166660)
Prancis mendukung pemberian kursi permanen kepada Afrika (dua kursi) serta kepada masing-masing anggota G4, dengan menegaskan bahwa "anomali historis yang membiarkan seluruh benua Afrika tanpa representasi permanen harus dikoreksi." [FATF](https://www.fatf-gafi.org/en/publications/Fatfgeneral/Update--Re-application-of-UN-Security-Council-Resolutions-related-to-Iran.html)
Gagasan Paling Radikal: Piagam PBB Baru
Mengambil inspirasi dari Konvensi Konstitusional Philadelphia 1787 — di mana para pendiri Amerika mengabaikan aturan amendemen yang membutuhkan konsensus bulat dan menciptakan konstitusi baru — para akademisi hukum internasional mengusulkan bahwa jika dua pertiga atau lebih negara-negara dunia bersatu, mereka dapat mendirikan PBB baru dengan Piagam baru yang lebih demokratis. Begitu teks Piagam baru disepakati dan diratifikasi oleh massa kritis negara-negara, ia akan berlaku sebagai konstitusi PBB baru yang secara otomatis memasukkan anggota PBB yang ada sebagai anggota yang berlanjut. [IAEA](https://www.iaea.org/newscenter/focus/iran/iaea-and-iran-un-security-council-resolutions-and-statements)
IV. Diagnosa Akhir: Oligarki Berpakaian Multilateralisme
Kesimpulan yang paling jujur dan argumentatif adalah ini:
Pilihannya kini sudah jelas: bertindak untuk menjadikan Dewan Keamanan layak untuk tujuannya, atau menerima kelumpuhan dan ketidakrelevanan yang terus-menerus — dan membiarkannya disaingi oleh Board of Peace Trump. [UN News](https://news.un.org/en/story/2025/12/1166660)
UNSC dalam bentuknya sekarang bukan instrumen demokrasi internasional — ia adalah oligarki lima negara yang membungkus dirinya dalam bahasa multilateralisme. Ketika negara yang menjadi pihak konflik sekaligus pemegang veto, sidang darurat apapun memang secara struktural adalah kesia-siaan — bukan karena niat buruk diplomat yang hadir, melainkan karena arsitektur sistemnya sendiri yang cacat sejak kelahirannya pada 1945.
Yang membuat kondisi 2026 berbeda dari sebelumnya adalah bahwa Majelis Umum PBB pada sidang tingkat tinggi 2025 menyaksikan seruan luas dan mendesak agar Dewan Keamanan dibuat lebih inklusif, transparan, efisien, demokratis, dan akuntabel [United Nations](https://press.un.org/en/2025/sc16175.doc.htm) — namun tanpa mekanisme pelaksanaan yang memaksa, seruan itu sendiri pun berisiko menjadi kesia-siaan lapis kedua.
Inilah paradoks tragis yang dihadapi tatanan internasional hari ini: sendiri lembaga yang paling berwenang untuk menghentikan perang adalah lembaga yang paling dikuasai oleh mereka yang memiliki kepentingan dalam perang itu sendiri.
Komentar
Posting Komentar