Selamat Jalan Dan Berduka Cita Kepada keluarga Almarhum Try Sutrisno
Selamat jalan dan berduka cita kepada keluarga Almarhum Try Sutrisno Try Sutrisno adalah salah satu tokoh militer dan politik paling ikonik dalam sejarah Orde Baru. Dikenal dengan pembawaannya yang tenang, santun, namun tetap teguh pada prinsip keprajuritan, ia merupakan sosok yang berhasil mencapai puncak karier baik di medan tempur maupun di kursi pemerintahan.
Berikut adalah ulasan komprehensif mengenai kiprah Jenderal (Purn.) Try Sutrisno.
1. Awal Kehidupan dan Pembentukan Karakter Militer
Lahir di Surabaya pada 15 November 1935, Try Sutrisno tumbuh di tengah gejolak revolusi fisik. Ayahnya, Subandi, adalah seorang sopir ambulans, sementara ibunya, Mardiyah, adalah ibu rumah tangga sederhana.
Karier militernya dimulai saat ia diterima di Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung pada tahun 1956. Pengalaman tempur pertamanya adalah melawan pemberontakan PRRI/Permesta, yang kemudian mengasah insting lapangan dan kepemimpinannya.
2. Sang "Ajudan Emas" dan Kedekatan dengan Soeharto
Titik balik paling krusial dalam karier Try terjadi pada tahun 1974 ketika ia terpilih menjadi Ajudan Presiden Soeharto. Selama empat tahun mendampingi "The Smiling General", Try tidak hanya belajar tentang protokol kenegaraan, tetapi juga memahami seluk-beluk pemikiran politik Soeharto.
Kedekatan ini sering dianggap sebagai "karpet merah" bagi kariernya, namun banyak rekan sejawatnya mengakui bahwa Try memiliki kompetensi yang mumpuni di luar statusnya sebagai orang dekat presiden.
3. Puncak Karier Militer: Dari Pangdam hingga Panglima ABRI
Karier Try melesat bak meteor. Ia memegang posisi-posisi strategis dalam waktu yang relatif singkat:
| Jabatan | Tahun | Catatan Penting |
|---|---|---|
| Pangdam V/Jaya | 1982–1985 | Menangani situasi keamanan ibu kota yang dinamis. |
| Wakil KSAD | 1985–1986 | Pendamping Jenderal Rudini. |
| KSAD | 1986–1988 | Fokus pada modernisasi infrastruktur TNI AD. |
| Panglima ABRI | 1988–1993 | Era transisi politik menuju keterbukaan (Demokrasi Pancasila). |
Peristiwa Penting & Kontroversi
Sebagai Panglima ABRI, Try tidak lepas dari sorotan tajam. Dua peristiwa besar yang sering dikaitkan dengan kepemimpinannya adalah:
* Peristiwa Talangsari (1989): Penanganan kelompok Warsidi di Lampung.
* Insiden Santa Cruz, Dili (1991): Pernyataannya yang keras pasca-insiden tersebut sempat memicu reaksi internasional, meski di dalam negeri ia dianggap sebagai penjaga stabilitas nasional.
4. Wakil Presiden RI ke-6: "Pilihan yang Mendahului"
Pemilihan Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden pada tahun 1993 merupakan momen unik dalam sejarah politik Indonesia. Berbeda dengan wakil-wakil sebelumnya yang biasanya "direstui" Soeharto terlebih dahulu, pencalonan Try dipelopori oleh Fraksi ABRI di MPR secara mendadak sebelum Soeharto mengumumkan pilihannya.
Banyak analis melihat ini sebagai upaya ABRI untuk "mengunci" posisi Wapres agar tetap berada di tangan militer. Soeharto akhirnya menerima pencalonan tersebut, dan Try menjabat sebagai Wapres periode 1993–1998.
> "Seorang pemimpin harus memiliki sifat ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani secara utuh." — Filosofi kepemimpinan yang sering ditekankan Try Sutrisno.
>
5. Masa Pensiun dan Warisan Integritas
Setelah turun dari jabatan Wapres pada Maret 1998 (digantikan oleh B.J. Habibie tepat sebelum reformasi meletus), Try Sutrisno memilih untuk tetap rendah hati. Di masa tuanya, ia dikenal sebagai "Penjaga Moral Pancasila".
Beberapa poin menarik dari masa pensiunnya:
* Hidup Sederhana: Berbeda dengan banyak pejabat era Orde Baru, Try dikenal memiliki gaya hidup yang jauh dari kesan mewah. Konon, ia harus mencicil rumahnya sendiri saat sudah tidak menjabat lagi.
* Negarawan Senior: Ia aktif memberikan masukan kepada generasi penerus mengenai pentingnya wawasan kebangsaan dan menjaga persatuan NKRI.
* Integritas: Hingga saat ini, namanya jarang terseret dalam skandal korupsi besar yang menjerat banyak tokoh di zamannya.
Try Sutrisno adalah representasi dari generasi prajurit yang setia pada atasan namun tetap berusaha menjaga marwah institusi. Meski kiprahnya diwarnai dengan beberapa kebijakan keras militer, ia tetap dihormati sebagai sosok yang tulus mencintai tanah air.
Garut, 2 Maret 2026
Komentar
Posting Komentar