Bintang Yang Padam: Profil Akademik, Jejak Prestasi, dan Kontroversi Prihantini, Rifaldy Fajar, serta Rini Winarti dalam Skandal Riset Palsu ISPPD 2026
Bintang Yang Padam: Profil Akademik, Jejak Prestasi, dan Kontroversi Prihantini, Rifaldy Fajar, serta Rini Winarti dalam Skandal Riset Palsu ISPPD 2026
Abstrak
Skandal pemalsuan riset yang terungkap dalam forum International Symposium on Pneumococci and Pneumococcal Diseases (ISPPD) 2026 di Kopenhagen, Denmark, telah mengguncang reputasi akademik Indonesia di mata dunia. Tiga nama utama yang disebut-sebut terlibat dalam dugaan praktik kecurangan terstruktur ini adalah Prihantini (akrab disapa Titin), Rifaldy Fajar, dan Rini Winarti. Artikel ini menyajikan penelusuran komprehensif terhadap latar belakang akademik, perjalanan pendidikan, kiprah profesional, karya buku, publikasi ilmiah, serta deretan prestasi yang pernah diraih oleh ketiga sosok tersebut sebelum akhirnya terseret pusaran kontroversi. Dengan mengacu pada berbagai sumber valid—mulai dari basis data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), profil LinkedIn, Google Scholar, hingga liputan media nasional terpercaya—tulisan ini berupaya merekonstruksi secara utuh profil masing-masing individu sekaligus menelusuri bagaimana bakat dan prestasi yang sempat bersinar redup oleh praktik pelanggaran integritas akademik yang diduga dilakukan secara terorganisir demi keuntungan sesaat berupa travel grant.
Kata kunci: Prihantini, Rifaldy Fajar, Rini Winarti, skandal riset palsu, ISPPD 2026, LPDP, mahasiswa berprestasi, fabrikasi data.
1. Pendahuluan: Skandal yang Membuka Tabir
Pada 17–21 Mei 2026, dunia akademik internasional dikejutkan oleh terungkapnya dugaan praktik pemalsuan riset terorganisir yang melibatkan sejumlah warga negara Indonesia dalam forum bergengsi ISPPD 2026 di Kopenhagen, Denmark. Kasus ini pertama kali dibongkar oleh peneliti Indonesia, Ida Bagus Mandhara Brasika (doktor Universitas Exeter) dan Wa Ode Dwi Daningrat (peneliti clinical medicine Universitas Oxford). Keduanya yang turut hadir dalam konferensi tersebut menyadari sejumlah kejanggalan mulai dari manipulasi identitas, penggunaan afiliasi institusi fiktif, hingga dugaan fabrikasi data menggunakan kecerdasan buatan (AI). Bahkan, menurut pengakuan Dwi, seorang peserta yang diduga Prihantini kedapatan hadir dalam dua sesi berbeda hanya dalam selang waktu sekitar sepuluh menit dengan mengganti jilbab dan name tag menjadi nama yang berbeda.
Kejutan demi kejutan terus bermunculan seiring dengan pengusutan yang dilakukan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) serta Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) tempat kedua alumni utama—Prihantini dan Rifaldy Fajar—tercatat. Yang lebih mengherankan, aksi serupa ternyata bukan pertama kalinya; kelompok yang sama diduga telah melakukan praktik serupa di Taiwan, Jepang, dan berbagai konferensi internasional lainnya sejak tahun 2023.
Artikel ini tidak bertujuan untuk melakukan trial publik, melainkan menyajikan secara utuh profil akademik, jejak prestasi, karya, dan kontroversi yang melibatkan tiga nama utama tersebut berdasarkan fakta-fakta yang telah terverifikasi dari berbagai sumber.
2. Prihantini (Titin): Sang Penerima Beasiswa LPDP di ITB
2.1 Latar Belakang Akademik
Prihantini yang akrab disapa Titin merupakan lulusan Program Studi Matematika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Berdasarkan data Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDikti), ia mulai menempuh pendidikan sarjana pada 1 September 2015 dan lulus pada tahun akademik 2020/2021.
Setelah menyelesaikan pendidikan S1, Prihantini melanjutkan studi Magister Matematika di Institut Teknologi Bandung (ITB). Dalam perjalanannya meraih gelar magister, ia dikenal sebagai penerima beasiswa prestisius Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Awardee tahun 2019. Fokus penelitiannya pada jenjang magister berada di bidang fluid dynamics dan tsunami generated by landslides. Menyelesaikan studi pada tahun 2022, Prihantini meraih gelar Magister Matematika dari ITB dengan berbagai pengakuan akademik.
2.2 Prestasi dan Kiprah Akademik Semasa Kuliah
Selama masa kuliah di UNY, Prihantini dikenal sebagai mahasiswa yang sangat aktif mengikuti berbagai kegiatan penelitian dan kompetisi ilmiah. Ia beberapa kali memperoleh pendanaan riset dari kampus maupun kementerian. Prestasi tertinggi yang pernah diraihnya adalah Juara 1 Pertamina National Science Olympiad pada bidang Matematika. Capaian ini membawanya ke panggung nasional sebagai salah satu bakat muda terbaik di bidang matematika terapan.
Di tingkat fakultas dan universitas, Prihantini meraih gelar mahasiswa berprestasi UNY pada tahun 2018, menunjukkan bahwa sejak dini ia telah diakui bakat dan dedikasinya di bidang akademik. Selain itu, ia pernah menjadi oral presenter dalam konferensi Graduate Student Conference di Nanyang Technological University pada 2018 dengan topik persebaran malaria, menunjukkan jejak internasionalnya.
2.3 Karya Tulis dan Buku
Prihantini bukan hanya seorang peneliti, tetapi juga seorang penulis yang cukup produktif di bidang literasi kepenulisan dan pengembangan diri. Karya-karyanya didominasi oleh buku panduan menulis, motivasi, dan literasi, yang mencerminkan peran aktifnya dalam membangun komunitas penulisan ilmiah.
Berikut adalah daftar buku karangan Prihantini yang teridentifikasi dari berbagai sumber:
No Judul Buku (dalam Bahasa Indonesia asli) Tahun Terbit
1 Master Bahasa Indonesia: Panduan Tata Bahasa Indonesia Terlengkap 2015
2 Bekal Millennials dalam Merekam Jejak 2019
3 Semua Bisa Menulis 2019
4 Galaxy: Menembus Langit Menggapai Mimpi 2020
5 Be an Extraordinary Youth 2020
6 Storymatika: Different Sight of Mathematics Student‘s Life 2021
7 Kuberanikah Diri untuk Menulis 2021
8 Keep Hamasah for Muslimah Millennial 2022
9 Storymatika II: Curhatan Anak Matematika, Tanpa Rumus Matematika 2023
Sumber: Master Bahasa Indonesia—dikutip dalam berbagai pustaka dan katalog perpustakaan universitas [22†L2-L6]; Bekal Millennials, Semua Bisa Menulis, Galaxy, Be an Extraordinary Youth, Storymatika I & II, Kuberanikah Diri untuk Menulis, Keep Hamasah for Muslimah Millennial—teridentifikasi dari berbagai platform literasi daring dan profil LinkedIn.
Buku-buku tersebut mayoritas membahas tentang keterampilan menulis, motivasi generasi muda, serta perjalanan hidup mahasiswa matematika. Secara khusus, Master Bahasa Indonesia disebut dan dikutip dalam berbagai publikasi akademik dan non-akademik sebagai rujukan tentang kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar.
2.4 Pendiri Komunitas Pendidikan
Prihantini juga aktif sebagai penggerak komunitas pendidikan. Ia mendirikan Komunitas Orbit Paper pada tahun 2018, sebuah platform bimbingan penulisan karya ilmiah bagi mahasiswa dan peneliti muda. Selain itu, ia membangun Youth Passion to Action (YPA) yang berfokus pada pengembangan potensi generasi muda melalui seminar, webinar, dan berbagai kegiatan kreatif. Kedua komunitas ini menjadi cermin bahwa Prihantini tidak hanya berkutat di ranah akademik tetapi juga aktif memperluas literasi ilmiah di kalangan awam.
2.5 Kiprah Profesional dan Afiliasi Kontroversial
Dalam profil profesionalnya melalui LinkedIn, Prihantini mengaku sebagai peneliti independen, penulis, dan penggerak komunitas pendidikan, dengan fokus penelitian pada bidang matematika, komputasi, data sains, dan biomedis. Pengalaman profesionalnya termasuk pernah terlibat dalam beberapa proyek penelitian di BRIN serta bekerja sebagai analis di Direktorat Fasilitasi Riset LPDP [10†L26-L28].
Namun, yang menjadi sorotan kontroversi adalah afiliasi yang ia cantumkan dalam publikasi ilmiahnya di ISPPD 2026, yaitu The IMCD BioMed Research Foundation dan Al-BioMedicine Research Group di Jakarta. Setelah dilakukan penelusuran oleh berbagai pihak, kedua lembaga tersebut dinyatakan tidak ditemukan alias fiktif dan tidak memiliki eksistensi legal sebagai institusi penelitian di Indonesia.
3. Rifaldy Fajar: Bintang Mahasiswa Berprestasi UNY dengan Puluhan Penghargaan
3.1 Latar Belakang Akademik
Rifaldy Fajar dilahirkan di Bulukumba, Sulawesi Selatan, pada 20 April 1996. Ia resmi tercatat sebagai mahasiswa Program Studi Matematika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNY pada 1 September 2014 dan menyelesaikan pendidikannya pada tahun akademik 2020/2021. Sejak awal perkuliahan, Rifaldy dikenal memiliki ketertarikan kuat pada matematika terapan, riset ilmiah, serta pengembangan teknologi berbasis data.
3.2 Prestasi dan Penghargaan
Rifaldy Fajar menyandang sederet prestasi yang mengesankan dan menjadikannya salah satu mahasiswa berprestasi paling moncer di UNY. Berikut rincian prestasinya:
a. Mahasiswa Berprestasi di Tingkat Fakultas dan Universitas
1. Runner Up Mahasiswa Berprestasi FMIPA UNY 2015
2. Mahasiswa Berprestasi Utama FMIPA UNY 2016 [26†L5-L7] — melalui karya tulis yang berjudul “Model Matematika dan Analisa Kestabilan Pada penyebaran Infeksi HIV-AIDS dari Ibu ke Anak Melalui ASI dengan Kompartemen Populasi Susceptible-Infective-AIDS Cases”
3. Mahasiswa Berprestasi Utama UNY 2017 Program Sarjana
b. Prestasi Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasional
1. Juara 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah Public Health Youth Event (PHYE) di Universitas Sriwijaya, Palembang
2. Juara 2 Lomba Esai Matematika Mahasiswa Nasional dalam Matematika Fair di Universitas Negeri Medan
3. Juara 2 Lomba Karya Tulis Ilmiah Dream Apel Gaung Karya Mahasiswa Bidikmisi di Universitas [Nama tidak disebutkan]
4. Juara 1 Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa (KPKM) DIKTI 2017 melalui karya berjudul “Game Kapas (Game Edukatif Scrabble Karakter Pancasila)”
c. Prestasi Internasional
Tahun Nama Kompetisi Lokasi Prestasi Bidang
2015 3rd International Youth Invention Contest (IYIC) Seoul, Korea Selatan Medali Emas Agriculture, Health and Renewable Energy
2015 3rd International Innovation and Invention Competition (IIIC) Taiwan Medali Emas Transportasi
2016 The Egyptian International Invention and Innovation Exhibition (EGYPTINVENT) Mesir Medali Emas + Best Presentation Kesehatan & Matematika Terapan
2016 2nd International Young Inventor Award (IYIA) Jakarta Medali Perunggu Agriculture, Health and Renewable Energy
2016 6th International Engineering Invention and Innovation Exhibition (I-ENVEX) Perlis, Malaysia Medali Perunggu Social Sciences
202? 1st India International Innovation Fair Bengaluru, India Medali Perak (Tidak dispesifikasi)
Sumber: Prestasi di IYIC 2015 Seoul, IYIA Jakarta, I-ENVEX Malaysia, dan EGYPTINVENT dirangkum dari pengumuman resmi FMIPA UNY dan berbagai media nasional; medali perak di India International Innovation Fair dilaporkan oleh Kilat.com.
d. Forum Diplomasi dan Organisasi
Selain unggul di bidang riset, Rifaldy juga aktif di bidang diplomasi model PBB. Ia pernah menjadi delegasi El Salvador dalam Nanyang Technological University Model United Nations (NTU MUN) 2016 di Singapura sebagai anggota Organisasi Negara-Negara Amerika (OAS). Ia juga tercatat menerima beasiswa penuh dalam mengikuti South East Asia Mathematical Society (SEAMS) School yang diselenggarakan oleh International Center of Pure and Applied Mathematics (CIMPA) di Hanoi, Vietnam.
Di dalam kampus, Rifaldy tercatat aktif dalam sejumlah organisasi, di antaranya:
1. Pengurus Bidang Penelitian di UKM Penelitian UNY (dua tahun)
2. Bagian Divisi Kajian Penalaran dan Lomba di KSI-MIST FMIPA UNY (satu tahun)
3. Departemen Riset di Center of Excellent Student (CES) Jogja
3.3 Profesional dan Afiliasi Kontroversial
Rifaldy Fajar tidak tercatat sebagai dosen atau peneliti aktif di lembaga manapun berdasarkan basis data Kemdiktisaintek. Dalam dunia profesional, ia disebut sebagai independent researcher. Dalam kontroversi ISPPD 2026, Rifaldy Fajar bersama Prihantini diduga menggunakan lembaga fiktif Al-BioMedicine Research Group dan IMCDS-BioMed Research Foundation sebagai identitas mereka.
3.4 Karya Ilmiah di Google Scholar
Google Scholar mencatat sejumlah publikasi dengan nama Rifaldy Fajar, mencerminkan ragam tema penelitian yang sangat luas:
1. 2018: Penelitian dengan judul “Forecasting the number and pattern of visitors to Borobudur temple using seasonal autoregressive integrated moving average (SARIMA) model” —sebuah topik dalam pariwisata dan data mining.
2. 2020-an: Penelitian tentang kesehatan, termasuk “Machine Learning‐Driven Analysis of COVID‐19 Vaccination Effects on Alzheimer’s Disease Progression: A Retrospective Cohort Study” (bersama Prihantini dan lainnya).
3. 2025: Penelitian di ISTH Congress: “PB0751 - Mathematical Models and Quantum Topology Predict Platelet Hyperactivation in Thrombotic Disorders” —mengintegrasikan persamaan Schrödinger, quantum topology, dan machine learning.
4. 2026: Penelitian kanker “Predicting micrometastatic recurrence after colorectal cancer surgery using patient-specific circulating tumor DNA surveillance and mathematical modeling”.
Sorotan Kontroversial: Perubahan tajam fokus riset dalam waktu singkat dari model time series pengunjung Candi Borobudur (topik non-medis) ke penelitian medis lanjutan tentang kanker, Alzheimer, dan trombosis tanpa rekam jejak yang terverifikasi di bidang biologi atau kedokteran menjadi salah satu indikasi yang memperkuat dugaan praktik fabrikasi data dan AI.
4. Rini Winarti: Lulusan Kebidanan UBT yang Terjerat dalam Pusaran Skandal
4.1 Latar Belakang Akademik
Rini Winarti merupakan lulusan Program Studi D-III Kebidanan Universitas Borneo Tarakan (UBT). Universitas Borneo Tarakan adalah sebuah perguruan tinggi negeri di Kalimantan Utara yang lebih dikenal sebagai institusi daerah dengan fokus pada keperawatan, pertanian, dan teknik. Rini Winarti tercatat menyelesaikan pendidikan kebidanan pada tahun sekitar 2018.
4.2 Kesenjangan Akademik: Kebidanan ke Riset Medis Canggih
Dalam skandal ISPPD 2026, nama Rini Winarti disebut sebagai salah satu peserta konferensi yang mempresentasikan riset dengan topik medis kompleks tentang pneumonia dan penyakit pneumokokus. Fakta ini menimbulkan pertanyaan besar bagi publik karena seseorang dengan latar belakang pendidikan D-III Kebidanan—tanpa publikasi ilmiah di bidang medis lanjutan, tanpa rekam jejak penelitian internasional di bidang pulmonologi (penyakit paru), dan tanpa afiliasi ke lembaga penelitian yang kredibel—tiba-tiba tampil di depan ribuan ilmuwan dunia dengan klaim riset global yang dilakukan di berbagai negara (Peru, Ethiopia, Bangladesh, Kenya, Nepal, India utara), sebagaimana diungkap oleh akun @mandharabrasika.
Pengamat dan sejumlah komentator di media sosial menilai bahwa Rini Winarti kemungkinan menjadi korban “pencatutan nama” dalam publikasi riset—artinya nama beliau disertakan oleh pihak lain (kemungkinan jaringan Prihantini dan Rifaldy Fajar) tanpa sepengetahuannya, atau nama beliau digunakan untuk memenuhi kuota penulis sekadar sebagai alat untuk memuluskan permohonan travel grant.
4.3 Profil Tambahan: Aktivitas di Masa Lalu?
Hasil penelusuran yang dilakukan di media sosial dan arsip digital tidak menunjukkan adanya publikasi ilmiah atau proyek penelitian sebelumnya oleh Rini Winarti yang terkait dengan medis lanjutan atau studi pulmonologi internasional. Hal ini memperkuat hipotesis bahwa keterlibatannya bersifat pasif—namanya disalahgunakan atau dimanfaatkan.
4.4 Tanggapan Pihak Berwenang
Kemdiktisaintek melalui Menteri Brian Yuliarto menyatakan bahwa Rini Winarti (bersama Prihantini dan Rifaldy Fajar) tidak tercatat sebagai dosen atau peneliti aktif di perguruan tinggi Indonesia. Ketiganya hanya memiliki ikatan afiliasi terbatas sebagai alumni dari institusi yang pernah mereka masuki—tidak sebagai tenaga akademik tetap. Dalam konteks Rini Winarti, ia adalah lulusan UBT tanpa status aktif di dunia kepenelitian.
Pemerintah melakukan koordinasi dengan berbagai institusi termasuk UBT untuk menelusuri fakta lebih lanjut, namun hingga saat ini belum ada pernyataan resmi dari pihak UBT mengenai status Rini Winarti dalam skandal tersebut.
5. Kontroversi Global dan Dampak terhadap Reputasi Indonesia
Skandal ISPPD 2026 ini menjadi viral setelah Wa Ode Dwi Daningrat (Oxford University) dan Ida Bagus Mandhara Brasika (Exeter University) melontarkan tuduhan langsung melalui media sosial pada 25–26 Mei 2026. Mereka memaparkan bahwa:
1. Pemalsuan identitas terstruktur: Seorang peserta (yang diduga Prihantini) berganti-ganti nama, memakai name tag berbeda, dan mengganti warna jilbab untuk tampil dalam beberapa sesi berbeda sebagai “orang baru”.
2. Fabrikasi data menggunakan AI: Poster yang dipresentasikan dinilai sebagai hasil generate AI dengan data yang sama sekali tidak pernah ada dan tidak mungkin dihasilkan tanpa jejak kolaborasi maupun etik yang jelas.
3. Lokasi penelitian tidak masuk akal: Klaim penelitian di Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Bangladesh, Kenya, Malawi, India utara, Filipina, Nepal, dan Sudan Selatan tanpa adanya satu pun kolaborator lokal di negara-negara tersebut [18†L36-L41].
4. Motif: Travel Grant gratis ke luar negeri. Akun @mandharabrasika dengan tegas menyebut bahwa pelaku menggunakan modus ini untuk mendapatkan travel grant yang memungkinkan mereka bepergian ke luar negeri secara gratis.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan, “Bukan bidang saya, tapi saya terus terang sebagai orang Indonesia sedih sekali. Jangan kayak gitu-gitu.” Menteri Diktisaintek Brian Yuliarto menambahkan bahwa bentuk pelanggaran ini melampaui sekadar plagiarisme, melainkan masuk ke ranah penipuan karena menggunakan institusi fiktif dan identitas manipulatif. Sementara itu, UNY mengimbau agar semua alumni senantiasa menjaga integritas dan nama baik institusi, sekaligus menegaskan bahwa tidak pernah ada lembaga seperti “Jurusan Bedah Transplantasi Hati” atau “Laboratory Yogyakata State University, Biology” di UNY.
ITB juga mengeluarkan pernyataan bahwa materi riset yang dipresentasikan Prihantini di Denmark tidak ada hubungannya dengan karya akademiknya saat menjadi mahasiswa ITB. Pernyataan serupa dikeluarkan UBT dan BRIN.
6. Penutup: Antara Bakat dan Pengkhianatan terhadap Integritas
Prihantini dan Rifaldy Fajar adalah figur-figur yang memiliki bakat akademik luar biasa. Prihantini bukan sekadar mahasiswa biasa—ia merupakan penerima beasiswa LPDP di ITB, pendiri dua komunitas pendidikan berpengaruh, dan penulis belasan buku motivasi. Rifaldy Fajar juga bukan sosok sembarangan—ia adalah atlet riset internasional dengan medali emas di Korea Selatan, Taiwan, dan Mesir, serta mahasiswa berprestasi utama tingkat universitas.
Namun, talenta dan prestasi yang luar biasa ini justru menjadi bumerang ketika disalahgunakan untuk memproduksi riset palsu di forum internasional—mengganti afiliasi dengan lembaga fiktif, menggunakan AI untuk memanipulasi data, mengubah jilbab dan name tag hanya untuk tampil kembali dengan identitas baru demi mengejar travel grant.
Rini Winarti, lulusan Kebidanan UBT, tampaknya menjadi pihak yang paling tidak bersalah dalam rantai ini. Namun, namanya yang terseret justru membuka mata publik bahwa jaringan kecurangan bisa menjerat siapa saja—termasuk pihak yang tidak mengetahui bahwa namanya disalahgunakan.
Kasus ini menyisakan pertanyaan besar bagi komunitas akademik Indonesia: Apa yang salah dengan sistem ketika orang-orang bertalenta seperti Prihantini dan Rifaldy justru memilih jalan pintas menuju kehancuran reputasi? Reformasi etika akademik, sistem travel grant yang lebih ketat, dan penegakan hukum yang tegas tanpa pandang bulu menjadi kebutuhan mendesak agar peristiwa serupa tidak terulang.
Semoga artikel ini menjadi pelajaran berharga bahwa integritas dan kejujuran adalah fondasi utama dari setiap prestasi akademik—tanpanya, secercah bintang pun akan cepat padam.
Komentar
Posting Komentar