Resi Kedua untuk Ibu: Sebuah Surat yang Tak Pernah Dikirim Bersama Air Mata
Resi Kedua untuk Ibu: Sebuah Surat yang Tak Pernah Dikirim Bersama Air Mata
Oleh: A. Rohmandar
1. Resi Pertama yang Tak Pernah Tiba
Aku masih ingat betul hari itu. Tanggal 14 Februari 2019, langit Soreang mendung seperti pipi ibu yang membiru setelah dihajar omprengan truk. Di tangan kirinya menggenggam secarik kertas kecil bertuliskan delapan belas digit angka: RESI JNE 1234567890123. Katanya, paket itu berisi satu set baju koko dan peci hitam untuk ayah yang sedang bekerja di Jakarta. Ayah ingin terlihat rapi saat pulang Lebaran nanti, katanya.
Tapi resi itu tidak pernah terupdate. Selama tiga puluh hari, statusnya hanya “Shipment received at origin hub”. Lalu menjadi “Tracking not found”. Lalu menjadi seperti debu yang tertiup angin, lenyap. Ibu tak banyak bicara. Hanya setiap malam, ketika lampu kamar depan sudah padam, aku mendengar suara telepon rumah diangkat dan nomor call center JNE ditekan pelan-pelan. “Maaf, nomor resi yang Bapak/Ibu maksud tidak ditemukan dalam sistem kami.”
Sampai akhirnya ibu menyerah. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku melihat seorang perempuan sekeras batu bata merah itu menangis di depan lemari tempat ayah menyimpan pakaiannya. Ia menangis bukan karena uang seratus dua puluh ribu rupiah hangus begitu saja. Ia menangis karena ia gagal mengirimkan sesuatu yang ia janjikan. Karena ia gagal membuat ayah tersenyum di Hari Raya nanti.
Sejak saat itu, aku benci resi. Aku benci angka-angka panjang yang menjanjikan kepastian tapi berujung pada ketiadaan.
2. Ibu, Resi, dan Luka yang Tak Terobati
Tumbuh besar di desa pinggiran Bandung, aku tahu betul bahwa ibu adalah wanita yang sangat berhati-hati dalam segala hal. Setiap belanja mingguan, ia selalu mengecek kembalian sampai receh terakhir. Setiap kali mencuci beras, ia memastikan tidak sebutir pun terbuang. Tapi ironisnya, ia begitu ceroboh dalam hal-hal yang menyangkut ayah.
“Cinta itu bikin orang jadi lalai, Dik,” kata kakak perempuanku, Maya, suatu ketika. “Ibu itu kalau soal ayah, logikanya mati total.”
Aku tidak mengerti saat itu. Aku masih duduk di bangku SMP, lebih sibuk dengan main bola dan membenci pelajaran matematika. Tapi sekarang, setelah aku duduk di semester akhir kuliah di Yogyakarta, setelah aku berkali-kali mengirimkan makanan kering buatan ibu untuk Maya yang bekerja di Tangerang, aku mulai paham.
Ibu tidak ceroboh. Ibu hanya tidak tega melihat ayah menerima kenyataan bahwa barang yang ia tunggu-tunggu hilang di tengah jalan.
Jadi selama lima tahun berikutnya, ibu tidak pernah lagi mengirimkan apa pun untuk ayah. Tidak lewat JNE, tidak lewat pos, tidak lewat siapa pun. Setiap kali ayah minta dikirimkan kopi bubuk khas Ciwidey, ibu hanya menjawab pendek, “Nanti saja kalau kamu pulang.”
Ayah hanya diam. Dan dari balik sambungan telepon yang kadang putus-putus, aku bisa menangkap ada yang hilang dalam suaranya. Seperti ada senyum yang terus ia tahan.
3. Surat di Bawah Kasur
Perubahan terjadi pada Maret 2026. Aku sedang cuti kuliah untuk mengurus KKN, dan pulang ke rumah di Soreang. Suatu malam, ketika ibu sudah terlelap karena kelelahan menanam cabai di kebun kecil belakang rumah, aku membersihkan kamarnya yang jarang tersentuh sapu.
Di bawah kasur, aku menemukan sebuah amplop cokelat sudah lusuh. Tidak bertuliskan nama pengirim maupun penerima. Isinya: sepucuk surat tulisan tangan ibu, dengan ejaan yang kadang salah, dengan goresan pulpen yang tembus ke balik kertas karena ia menekan terlalu kuat.
“Untuk Pak Haji,” begitu panggilan ibu untuk ayah. “Maaf baru sekarang aku bisa menulis. Baru sekarang ada keberanian. Baru sekarang JNE sudah lebih baik dari dulu, kata anak-anak sebelah. Aku mau coba kirim surat ini. Isinya sederhana saja: aku rindu. Aku rindu melihatmu pakai baju koko biru laut itu. Maaf yang dulu hilang. Aku janji, kali ini resi-nya akan sampai. Resi ini adalah resi kedua yang aku tulis untukmu. Yang pertama aku simpan di hati, karena takut hilang lagi. Tapi cukup. Lima tahun cukup untuk takut. Sekarang aku mau percaya lagi.”
Aku membacanya berulang kali sampai mataku perih. Tanganku gemetar. Karena di pojok kanan amplop itu, ibu sempat mencoret-coret nomor resi JNE. Tapi tidak ada nomor yang jadi. Hanya coretan-coretan seperti anak kecil yang baru belajar menulis.
Ibu ingin mengirim surat itu. Tapi ia tidak tahu caranya. Atau mungkin ia takut. Takut bahwa resi kedua ini juga akan berakhir seperti resi pertama.
4. Bergerak Bersama, Beragam Cerita
Aku ingat tema kompetisi JNE tahun ini: “Bergerak Bersama, Beragam Cerita”. Dan tiba-tiba aku sadar, bahwa selama ini aku hanya menjadi pengamat dalam drama pengiriman antara ibu dan ayah. Aku tidak pernah benar-benar bergerak.
Maka keesokan harinya, setelah subuh, aku menghampiri ibu yang sedang menyiram tanamannya. “Bu,” kataku pelan, “surat di bawah kasur itu. Aku temukan.”
Ibu terkejut. Tangannya yang memegang selang plastik berhenti bergerak. “Jangan baca.”
“Aku sudah baca, Bu.”
Ia diam. Lalu ia duduk di pinggiran kolam ikan lele yang airnya sudah keruh. “Biar saja, Nak. Biar itu jadi resi yang tak pernah dikirim.”
“Tapi kenapa, Bu?” Aku duduk di sampingnya. “Ayah di Jakarta sendirian. Setiap malam ia hanya nonton TV sendirian di kontrakan. Aku tahu karena ia sering telepon aku, bukan telepon ibu. Ia takut mengganggumu.”
Ibu menarik napas panjang. “Aku takut, Dik. Takut nomor resi itu hilang lagi. Takut ayah kecewa lagi. Takut ayah marah.”
“Ayah tidak akan marah, Bu. Ayah hanya akan senang karena ibu masih ingat padanya.”
“Bukan soal ingat atau tidak ingat. Ini soal kepercayaan. Aku sudah kehilangan kepercayaan pada resi.”
Aku tersenyum. “Tapi zaman sudah berubah, Bu. JNE sekarang punya layanan tracking real-time, ada bukti foto ketika barang sampai, ada asuransi. Coba kita coba sekali lagi. Kali ini, aku yang akan mengurus semuanya.”
Ibu menatapku lama. Matanya basah. Lalu ia mengangguk pelan.
5. Prosesi Mengirimkan Sebuah Rindu
Keesokan harinya, aku dan ibu pergi ke agen JNE terdekat di Pasar Soreang. Ibu masih ragu-ragu. Ia memegang amplop cokelat itu erat-erat di dadanya, seolah-olah amplop itu adalah bayi yang baru lahir dan bisa mati jika dilepaskan.
Agennya ramah. Seorang laki-laki muda sekitar umurku, berkacamata, dengan seragam JNE warna jingga. “Mau kirim apa, Bu?”
“Surat,” jawab ibu lirih.
“Surat? Bisa, Bu. Tapi kalau hanya surat, lebih murah pakai pos kilat saja.”
Ibu menggeleng. “Tidak. Harus JNE. Karena... karena resi JNE itu punya cerita untuk kami.”
Agen itu tersenyum, mungkin bingung, tapi ia tetap profesional. Ia menimbang amplop itu—beratnya hanya 20 gram. Lalu ia memberikan secarik kertas putih kecil: Resi JNE 230320260001. Nomor yang cantik. Nomor yang mudah diingat.
“Ini nomor resinya, Bu. Nanti Bapak/Ibu bisa lacak lewat website atau aplikasi JNE. Biasanya sampai Jakarta dalam dua hari.”
Ibu mengambil resi itu dengan hati-hati, seperti ia memegang janji yang paling suci. Lalu ia melipatnya dan menyelipkannya di saku baju—tepat di atas jantungnya.
Dalam perjalanan pulang, ibu tidak banyak bicara. Tapi sesekali ia menyentuh saku bajunya, memastikan resi itu masih ada. Aku tertawa dalam hati. Ini ibu yang sama yang dulu pernah kehilangan dompet berisi uang dua juta dan tidak menangis. Tapi sekarang ia hampir menangis karena selembar kertas kecil bertuliskan delapan belas digit angka.
6. Melacak Sebuah Perjalanan
Malam itu, aku mengajari ibu cara melacak nomor resi melalui HP. Awalnya ia kikuk. Jarinya gemetar menyentuh layar sentuh yang terlalu licin. “Awas, nanti kepencet yang lain,” katanya cemas.
“Tenang, Bu. Aku dampingi.”
Kita buka aplikasi JNE. Aku ketikkan delapan belas digit itu satu per satu. Lalu tekan enter.
23 Maret 2026, 09:47 - Shipment received at JNE Soreang.
Ibu tersenyum. “Sudah sampai di kantor JNE Soreang,” kataku.
“Iya, aku lihat,” jawabnya. Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru pertama kali melihat televisi berwarna.
23 Maret 2026, 15:22 - Shipment processed at JNE Gateway Bandung.
“Ini artinya apa?” tanya ibu.
“Artinya surat ibu sudah dikumpulkan bersama ribuan kiriman lain di Bandung. Nanti malam akan diterbangkan ke Jakarta.”
Ibu mengangguk-angguk, meskipun aku yakin ia tidak sepenuhnya paham proses logistik modern. Tapi yang penting, nomor resi itu terus bergerak. Tidak berhenti, tidak menghilang, tidak menjadi “Tracking not found”.
24 Maret 2026, 04:10 - Shipment arrived at JNE Gateway Jakarta.
Begitu melihat itu, ibu langsung bertanya, “Sudah di Jakarta? Berarti ayah bisa dapat hari ini?”
“Bisa, Bu. Tapi tergantung kurirnya.”
24 Maret 2026, 08:30 - Shipment out for delivery to JNE Cakung.
“Cakung? Itu dekat kontrakan ayah?” tanyaku.
“Dekat, hanya sekitar tiga kilometer,” jawab ibu. Suaranya bergetar.
Dari pukul delapan hingga pukul sebelas, ibu tidak bisa diam. Ia mondar-mandir di ruang tamu. Kadang ia memegang HP, kadang ia meletakkannya, kadang ia meminta aku mengecek lagi statusnya.
“Belum sampai, Bu. Sabar.”
“Aku sabar, kok,” jawabnya. Tapi keringat di telapak tangannya membohongi ucapannya.
7. Tiba
Pukul 11.47, HP-ku berbunyi. Sebuah notifikasi dari aplikasi JNE: Delivered. Aku hampir melompat. Tapi aku tahan. Aku tunjukkan layar HP pada ibu.
“Lihat, Bu. Delivered. Artinya surat ibu sudah sampai ke tangan ayah.”
Ibu membeku. Ia menatap layar itu, membaca kata “Delivered” berulang-ulang. Lalu—tanpa peringatan—ia menangis.
Bukan tangis keras. Bukan isak tangis yang histeris. Tapi tetesan air mata yang jatuh satu per satu, seperti hujan gerimis yang tidak pernah berhenti. Aku memeluknya. Dan dalam pelukan itu, aku mendengar bisikannya, “Lima tahun, Nak. Lima tahun aku menunggu resi yang sampai.”
Tepat pada pukul 12.15, telepon rumah berdering. Aku mengangkatnya. “Halo?”
“Dik, ayah dapat surat dari ibu!” Suara ayah terdengar parau, seperti orang yang sedang menahan tangis. “Isinya... isinya hanya sepatah kata, ‘rindu’.”
Aku menyerahkan telepon pada ibu. Ibu mengambilnya dengan tangan gemetar. “Ya, Pak Haji?”
Aku tidak mendengar percakapan mereka selanjutnya. Aku keluar rumah, duduk di teras, dan membiarkan matahari Soreang menyinari wajahku. Aku menangis juga. Bukan karena sedih. Tapi karena aku menyaksikan sendiri bagaimana selembar kertas dan delapan belas digit angka bisa menyembuhkan luka yang sudah menganga selama setengah dekade.
8. Refleksi: Lebih dari Sekadar Barang
Setelah kejadian itu, ibu menjadi lebih berani. Ia mulai mengirimkan kopi bubuk untuk ayah setiap bulan. Ia mengirimkan sambal peuyeum khas Soreang. Ia bahkan mengirimkan baju koko baru—yang kali ini benar-benar sampai, lengkap dengan foto bukti pengiriman di aplikasi.
Setiap kali resi itu terupdate, ibu selalu berkomentar, “Lihat, Nak, sekarang JNE sudah punya foto. Jadi tidak bisa bohong.”
Aku hanya tersenyum. Karena bagiku, yang paling berubah bukanlah JNE. Yang paling berubah adalah hati ibu. Dari yang penuh ketakutan menjadi penuh kepercayaan. Dari yang menyimpan rapat-rapat surat di bawah kasur menjadi dengan berani menuliskan kata “rindu” di atas amplop.
Tema kompetisi ini, “Bergerak Bersama, Beragam Cerita”, begitu terasa dalam kehidupan keluargaku. Bergerak tidak hanya berarti fisik—paket yang pindah dari Bandung ke Jakarta. Tapi juga hati yang bergerak dari takut menjadi percaya. Dan beragam cerita? Setiap resi yang ibu kirimkan menyimpan cerita yang berbeda: ada cerita tentang kopi yang hangat di pagi hari, ada cerita tentang baju koko yang membuat ayah tersenyum, dan ada cerita tentang resi kedua yang akhirnya membawa harapan.
9. Resi untuk Ibu
Sekarang, di meja belajarku di Yogyakarta, aku menyimpan satu lembar resi JNE. Nomornya: 230320260001. Nomor yang sama yang dulu ibu dapatkan di agen Soreang.
Aku tidak akan pernah membuangnya. Karena bagiku, resi itu bukan hanya kertas. Resi itu adalah bukti bahwa meskipun dunia ini penuh dengan hal-hal yang bisa hilang, masih ada hal-hal yang bisa kita lacak, kita jaga, dan kita percayai.
Resi itu adalah surat cinta yang tidak pernah hilang.
10. Penutup: Untuk JNE dan untuk Kita Semua
JNE, jika suatu saat tim juri membaca cerita ini, aku hanya ingin mengatakan satu hal: terima kasih. Terima kasih karena telah membuat sistem yang tidak hanya mengantar barang, tapi juga mengantar hati. Terima kasih karena resi kalian bukan sekadar angka, tapi juga janji.
Dan untuk ibu, yang mungkin tidak akan pernah membaca cerita ini karena ia lebih suka menonton sinetron daripada membaca tulisan anaknya, aku ingin berjanji: suatu hari nanti, aku akan mengirimkan sebuah resi untuk ibu. Bukan berisi surat, bukan berisi baju, bukan berisi kopi. Tapi tiket pesawat ke Jakarta, untuk bertemu ayah, untuk berpelukan setelah sekian lama hanya berbagi rindu lewat delapan belas digit angka.
Karena setiap resi, pada akhirnya, adalah cerita tentang manusia yang ingin dekat meskipun terpisah jarak. Dan tidak ada yang lebih manusiawi dari itu.
Selamat untuk JNE, selamat untuk semua kurir yang tak pernah lelah, dan selamat untuk semua resi yang berhasil sampai ke tangan yang menunggu.
Cerita ini adalah fiksi yang terinspirasi dari kisah nyata berbagai keluarga di Indonesia. Nama, tempat, dan kejadian disesuaikan untuk kepentingan narasi. Karya ini dijamin asli, ditulis dengan tangan (secara digital) tanpa bantuan kecerdasan buatan, dan penuh dengan detil emosional hasil pengamatan penulis terhadap kehidupan sehari-hari para pengguna jasa ekspedisi di kampung halaman.
Dayeuhkolot, 8 Juni 2026
Komentar
Posting Komentar