Museum Sri Baduga: Menjaga Jejak Peradaban Sunda dari Masa ke Masa

Museum Sri Baduga: Menjaga Jejak Peradaban Sunda dari Masa ke Masa

BANDUNG (15/9/2026) — Terletak strategis di seberang Taman Tegallega, Museum Sri Baduga menjadi pusat pelestarian warisan budaya Jawa Barat yang menyimpan kekayaan sejarah luar biasa. Nama museum ini diambil dari gelar Raja Agung Kerajaan Sunda, Prabu Siliwangi III, yang bergelar Sri Baduga Maharaja Ratu Haji berdasarkan isi Prasasti Batutulis, memerintah Pakwan Pajajaran pada 1482-1521 Masehi.

Sejarah dan Bangunan

Museum ini berdiri pada tahun 1974 atas gagasan Gubernur Jawa Barat Aang Kunaefi, memanfaatkan bangunan bekas kantor Kawedanan Tegallega. Pada 5 Juni 1980, museum diresmikan sebagai Museum Negeri Provinsi Jawa Barat oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Dr. Daoed Joesoef, dan pada tahun 1990 resmi berganti nama menjadi Museum Sri Baduga. Bangunan seluas 8.030 meter persegi ini mengusung arsitektur tradisional khas Jawa Barat, yakni rumah panggung beratap suhunan panjang yang dipadukan dengan gaya modern.

Koleksi: Dari Fosil hingga Naskah Kuno

Museum Sri Baduga menyimpan sebanyak 6.720 benda purbakala, dengan sekitar 80 persen koleksi asli dan 20 persen replika. Koleksi tersebut dikelompokkan ke dalam sepuluh klasifikasi: geologika, biologika, etnografika, arkeologika, historika, numismatika, filologika, seni rupa, keramologika, dan teknologika.

Salah satu koleksi unggulan adalah replika Gua Pawon dan Manusia Pawon yang ditemukan di Gunung Masigit, Padalarang, Bandung Barat—jejak manusia purba yang hidup di Cekungan Bandung sekitar 9.500 tahun lalu. Museum ini juga menyimpan 147 naskah kuno yang ditulis dalam aksara Sunda Kuno, Jawa Kuno, dan Palawa, dengan media daun lontar, kertas Eropa, logam, serta kayu.

Berbagai koleksi budaya Sunda turut dipamerkan, mulai dari pakaian adat pengantin, peralatan tenun, senjata tradisional seperti kujang, gamelan dan angklung kuno, hingga koleksi mata uang dari masa kerajaan. Di lantai tiga, pengunjung dapat menemukan koleksi masterpiece seperti bokor emas, topeng emas, dan kain panjang yang pernah digunakan Bupati Galuh pada abad ke-16.

Pameran dan Inovasi Digital

Pada Juni 2026, Museum Sri Baduga menggelar pameran temporer bertajuk "Susur Alur Kultur: Rekam Jejak Kerajaan di Jawa Barat dalam Panggung Sejarah Sunda", yang menyajikan perjalanan kronologis dari masa prasejarah hingga masa kerajaan besar seperti Tarumanegara dan Pajajaran. Pameran ini dilengkapi lokakarya penulisan aksara Sunda untuk masyarakat.

Kepala UPTD Pengelolaan Kebudayaan Jawa Barat, Ary Heryanto, menegaskan bahwa museum bukan sekadar tempat memamerkan benda masa lalu, melainkan ruang edukasi yang aktif dan interaktif. Museum juga menghadirkan ruang imersif dengan video berdurasi sekitar 20 menit yang mengajak pengunjung menelusuri perjalanan sejarah Jawa Barat, dari proses terbentuknya wilayah, masa kerajaan, era kolonial, hingga masa kemerdekaan.

Revitalisasi Menuju Standar Nasional

Kementerian Kebudayaan merencanakan revitalisasi menyeluruh Museum Sri Baduga agar setara dengan Museum Nasional. Selain inovasi digital, museum terus mengandalkan pameran tematik sebagai daya tarik utama, khususnya bagi generasi muda.

Informasi Kunjungan

Museum Sri Baduga beralamat di Jalan BKR Nomor 185, Kelurahan Pelindung Hewan, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung. Waktu kunjungan dibuka pukul 08.00 hingga 15.30 WIB, dan umumnya tutup pada hari Senin serta hari libur nasional untuk perawatan koleksi. Museum ini menyediakan fasilitas musala, akses tangga untuk disabilitas, dan panggung kecil yang kerap digunakan untuk latihan kesenian.

Dengan perpaduan koleksi bersejarah, inovasi digital, dan komitmen pelestarian budaya, Museum Sri Baduga terus menjadi gerbang utama bagi siapa saja yang ingin mengenal lebih dalam akar budaya dan peradaban masyarakat Sunda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dampak Konflik Amerika-Venezuela terhadap Ekonomi Global: Analisis Komprehensif

Di Ujung Tanduk Sejarah: Krisis Iran-Amerika dan Pencarian Jalan Keluar yang Mustahil

PBB Lakukan Sidang Darurat Konflik Iran